HNISukses.com – Sengaja tulisanku ini kutujukan untuk para ayah. Karena ia lah Sang Imam . Karena ia lah Penentu Masa Depan Anak2nya. Dan karena amanah yang begitu besar ,ia sering melupakan bahwa sejatinya Ada Penjamin Rezeki bagi anak2nya (dalam kondisi apapun ia)

Aku akan bicara jujur karena aku istri seorang pensiunan PNS , yang 2 th sebelum beliau pensiun, sudah mengamanahkan bahwa aku lah sang pencari nafkah.

Sababat ,jangan ditanya bagaimana reaksiku 5 tahun yang lalu??
Memang aku berjiwa entrepeneur dan banyak jenis usaha yg sudah aku coba.
Tapi kondisiku saat itu, aku belum pulih benar usai melahirkan anak kelima. Dimana waktu hamil aku kehilangan ibu ( beliau dari Surabaya , niatnya nengok keluarga kecilku tapi meninggal krn diabetnya kambuh) dan urus kasus perdata di kepolisian.

Sahabat , anak2ku pun sudah diwarning suami agar sekolah negeri. Aku yang berprinsip bahwa sekolah / pendidikan itu bagian investasi, maka aku memilih menyekolahkan anak2ku sedari kecil ke sekolah Islam (swasta).

Aku sadar setelah aku banyak belajar tentang parenting dan psikologi. Bahwa suamiku kena Post Power Syndrom..
Jangan ditanya bagaimana emosional beliau?
Jangan ditanya pula bagaimana kondisi keluarga kami?
Yang jelas jauh dari Samara.

Sahabat, keluarga kami di mata siapa pun adalah keluarga agamis dan cukup terpandang.

Tapi ternyata itu hanya sawang sinawang !!
Di dalam aku harus berjuang sendiri agar kehidupan keluarga kami menjadi normal.

Bayangkan saja ya Sahabat, betapa malunya aku. Bagaimana dengan mudahnya suami meminjam uang ke saudaranya untuk membayar spp anak2 dari pada menjual mobil kesayangannya , yang sering masuk bengkel karena ac rusak, mesin ngadat, dsb.

Bayangkan pula Sahabat, betapa pengapnya rumah kami karena tikus senantiasa bersliweran di dalam rumah karena suami sering menumpuk buku2 & baju2 bekas😭.

Sahabat, khususnya para ayah ……

Apa anda berfikiran sama jika anda punya anak pertama lelaki, ia lah penerus dari sang ayah sebagai pencari nafkah??

Betul tapi tidak selamanya betul!!

Betul karena di Islam dan Hukum Negara usia 21th sudah dianggap dewasa.
Tapi jika anak belum siap terlebih mentalnya, jangan dipaksa !!

Anak pertama kami, seorang pria menuju dewasa. Ia anak yang berbakti pada kami. Tak sekalipun pernah menyakiti kami. Prestasinya membuat kami bangga. Sewaktu kecil anak yang dimanja oleh ayahnya.
Tapi karena ia memiliki 4 orang adik, ia selalu berfikir bagaimana membanggakan kami, kedua orang tuanya. Fasilitas yang dia dapat dari kecil seperti antar jemput sekolah dengan supir pribadi, pembantu yang senantiasa meringankan pekerjaan rumah ,
les apa pun untuk skilll ia, itu hanya kenangan manis masa lalu

Akibatnya, ketika ia menemui kegagalan ia belum siap….
Anak pertama kami belum sebulan meninggalkan kami setelah 6 bulan ia harus berjuang melawan penyakitnya. Meningitis tb!!!
Penyakit yang kata dokter bukan tiba2….

Betul!! Saya baru menyadari meski ia pernah jatuh 2x dari motor tapi ia sehat. Tapi yang menjadi beban ketika ia gagal ikut exchange ke Jepang & itu sdh tahap akhir.
Bayangan akan senyum bangga kami terlebih senyum ayahnya pun pupus.

Tak ada kata perpisahan dari anak kami hingga sampai saat ini sering membuat aku tak percaya krn ia sebelumnya sudah bisa jalan meski kondisi fisiknya yang lumpuh sebelah.

Sahabat khususnya para ayah….
Kondisi apa pun anda, phk, mau pensiun, dll
Jangan Patah Semangat !!!
Jangan Kubur Mimpi Anak2 Anda!!!

Masih ada kok rezeki Yup di HNI !!

Banyak yang sudah buktikan klo di HNI bisa sukses, tanpa perlu ijazah !

Ayo Sahabat , Segera Buat Keputusan

Hj Istinah
Your Trully Partner
435791